Latar belakang sejarah, orientasi politik, dan hasrat untuk kepemimpinan
regional menjadi faktor yang mendasari persaingan Arab dan Iran. Tarik-ulur
pemerintahan Arab Saudi dan Iran tampaknya akan belum usai. Baru-baru ini dunia
timur tengah kembali dikejutkan dengan pemberitaan eksekusi tokoh ulama Syiah,
Sheikh Nimr al-Nimr sabtu (2/11). Sebelumnya al-Nimr terkenal sebagai tokoh
Syiah yang melakukan demonstrasi Musim Semi Arab, Arab Saudi. Menyusul eksekusi
tokoh ulama Syiah al-Nimr, puluhan pemuda Iran menyerbu dan membakar kantor
Kedutaan Besar Arab Saudi di Teheran (Kompas, 5/01/2016).
Eksekusi mati yang
dilakukan Arab Saudi telah memutus rantai hubungan diplomatik Iran-Arab.
Petinggi pimpinan Iran, Ayatollah Ali Khamenei mengecam keras perilaku yang
dilakukan pemerintah Arab Saudi, sebab hukuman eksekusi mati lebih berakar pada
permasalahan politik. Oleh karena itu hukuman eksekusi mati yang dilakukan Arab
Saudi terhadap Sheikh Nimr al-Nimr tak dapat dibiarkan dan mereka akan
mendapatkan hukuman yang setimpal, katanya. Meskipun demikian, banyak pihak
beranggapan penjelasan Khamenei yang mengecam keras lebih bersifat implisit dan
absurd sebab hukuman pembalasan seperti apa yang nantinya akan dibalas Iran
terhadap Arab Saudi.
Jauh hari sebelumnya
tepatnya 1950-an timur tengah memang terkenal sebagai negara berkonflik bagi
negara lain. Bukan tanpa bukti, koflik Arab-Israel 1948, 1956, 1967, dan 1973.
Pada tahun 1980-an perubahan konstelasi konflik berubah lagi kali ini Iran-Irak
1980-1988 yang berhasil ditundukkan Irak saat masih dipimpin oleh Saddam
Hussein, kemudian perubahan konfigurasi konflik timur tengah berubah lagi kali
ini Irak-Arab yang berseteru setelah Irak menginvasi Kuwait pada 1990.
Paska invasi Amerika
terhadap Irak pada 2003 yang mengakibatkan lengsernya rezim Saddam Hussein,
arah konflik timur tengah berubah ke Iran dan Arab Saudi. Sebelumyna Arab Saudi
mendukung penuh pemerintahan Irak ketika Irak sedang berkonflik dengan Iran
1980-an. Tetapi karena perbedaan pandangan ketika Amerika menginvasi Irak
seolah-olah Arab Saudi tak bertaji menghadapi permainan manuver yang dilakukan
AS dan sekutu. Akibatnya Saddam Hussein tak tertolong dan berhasil dilengserkan
sebagai orang nomer satu di Irak.
Sejak saat itu kedua
negara berperang secara tidak langsung (proxy war) pertarungan ini mulai
muncul ke permukaan setelah Iran dipimpin oleh Ahmadinejad yang dengan tegas
menolak segala aspek berbau kepentingan AS dan sekutu. Setelah Ahmadinejad
memimpin selama dua periode (delapan tahun) dan digantikan oleh Ayatollah
Khamenei yang notaben memiliki kedekatan personal dengan pemimpin revolusi Iran
terdahulu. Dengan demikian, konflik Iran-Arab tambah merambah jauh dalam
skalasi konflik timur tengah. Bukti nyata mengenai perbedaan pandangan mengenai
konflik di Suriah.
Gengsi di Suriah
Iran merupakan negara
yang mayoritas penduduknya menganut mazhab Syiah Jakfariyah punya pandangan
sendiri dan mendukung total pemerintahan Bashar al-Asaad bersama Rusia dan
China. Ini adalah langkah tegas yang diambil Iran. Terus menyuarakan pentingnya
negara tak ikut campuri urusan negara apalagi sampai mencampuri urusan
pemerintahan dalam suatu negara. Mereka mendukung bukan tanpa alasan, konflik
Suriah bagi Iran merupakan pertaruhan gepolitik di timur tengah dan kembali
mempertegas bahwa Iran dan Arab Saudi tidak akan pernah akur dalam pandangan
politik negaranya. Bagi Iran Bashar al-Asaad sendiri sebenarnya bukan berlatar
belakang Syiah Jakfariyah (Iran) tetapi bermazhab Alawiyah. Namun karena gengsi
politik mereka masing-masing kemungkinan susah untuk diajak berunding satu
meja.
Langkah yang seharusnya
diambil keduanya mempertemukan titik temu Sunni-Syiah dan bukan berkonflik
sehingga dapat mengembalikan ukhuwah islamiyah di penjuru dunia. Tetapi gengsi
yang ditonjolkan sudah menghapus rasa solidaritas di internal sesama muslim.
Disamping itu, mereka cenderung tak memperdulikan negara-negara tetangganya.
Arab saudi yang memiliki popularitas kurang-lebih 30 juta penduduk terlanjur
nyaman bermain catur dengan barat. Buktinya, semenjak eksekusi terhadap ulama
Syiah Syeikh Nimr al-Nimr banyak pihak dari negara luar (Lebanon, Bahrain,
Irak, Jordania, Suriah, etc) mengecam keras langkah Arab Saudi. Gaya politik
Arab Saudi memang berada di atas angin dan Posisi Iran cenderung terisolasi
paska eksekusi ini.
Akan tetapi, apabila
ini terus berlarut Iran yang didukung Rusia dan China tetap memiliki peran
besar dalam politik internasional. Konflik di Suriah bagi Iran dan sekutunya
tetap menginginkan Bashar al-Asaad layak memimpin Suriah. Sementara lagi-lagi
Arab Saudi bersikukuh menginginkan adanya perubahan di Suriah dan memberikan
peran yang besar terhadap pihak opisisi (mayoritas Sunni) untuk mengambil alih
pemerintahan. jika Bashar al-Asaad tidak dilengserkan baginya ditakutkan
pelanggaran HAM terus meluas, sebab tiap hari hampir selalu ada pembunuhan di
mana-mana yang dilakukan pro militer Suriah kepada oposisi. Arab Saudi bukan
tanpa teman, mereka bersama Amerika, Ingris, dan Perancis berada di belakangnya
demi menggulingkan rezim Bashar al-Asaad yang sudah lama memimpin dan situasi
di Suriah sendiri terpecah-pecah paska adanya revolusi tahun 2011 silam.
Di balik itu semua,
menurut Vali Nasr (2016), di samping eksekusi mati Sheikh Nimr al-Nimr semakin
memperburuk hubungan Iran-Arab Saudi, sebenarnya ada agenda yang lebih besar,
yaitu narasi sektarian konflik Sunni-Syiah. Pasalnya tidak ada alasan kuat
untuk menghukum mati Sheikh Nimr al-Nimr. Memvonis Sheikh Nimr al-Nimr dengan
alasan melakukan aksi terorisme amat berlebihan. Tak ada bukti kuat, apalagi ia
disandingkan dengan Faris Suwail, warga Mesir yang menjadi tangan kanan Ayman
al-Zawahiri.
Semoga rentetan
peristiwa kepentingan politik yang menimpa Iran-Arab Saudi cepat atau lambat
dapat terealisasi dan bisa duduk satu meja berunding guna menjaga pentingnya
stabilitas politik di timur tengah. Masyarakat timur tengah menunggu
itu....*****
Penulis adalah Mahasiswa Hubungan Internasional UMM
Malang dan aktif di Peneliti Kajian Timur Tengah (COMEs)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar