Powered By Blogger

Selasa, 05 Januari 2016

Beda Kepentingan Beda Gaya


Latar belakang sejarah, orientasi politik, dan hasrat untuk kepemimpinan regional menjadi faktor yang mendasari persaingan Arab dan Iran. Tarik-ulur pemerintahan Arab Saudi dan Iran tampaknya akan belum usai. Baru-baru ini dunia timur tengah kembali dikejutkan dengan pemberitaan eksekusi tokoh ulama Syiah, Sheikh Nimr al-Nimr sabtu (2/11). Sebelumnya al-Nimr terkenal sebagai tokoh Syiah yang melakukan demonstrasi Musim Semi Arab, Arab Saudi. Menyusul eksekusi tokoh ulama Syiah al-Nimr, puluhan pemuda Iran menyerbu dan membakar kantor Kedutaan Besar Arab Saudi di Teheran (Kompas, 5/01/2016).

Eksekusi mati yang dilakukan Arab Saudi telah memutus rantai hubungan diplomatik Iran-Arab. Petinggi pimpinan Iran, Ayatollah Ali Khamenei mengecam keras perilaku yang dilakukan pemerintah Arab Saudi, sebab hukuman eksekusi mati lebih berakar pada permasalahan politik. Oleh karena itu hukuman eksekusi mati yang dilakukan Arab Saudi terhadap Sheikh Nimr al-Nimr tak dapat dibiarkan dan mereka akan mendapatkan hukuman yang setimpal, katanya. Meskipun demikian, banyak pihak beranggapan penjelasan Khamenei yang mengecam keras lebih bersifat implisit dan absurd sebab hukuman pembalasan seperti apa yang nantinya akan dibalas Iran terhadap Arab Saudi.

Jauh hari sebelumnya tepatnya 1950-an timur tengah memang terkenal sebagai negara berkonflik bagi negara lain. Bukan tanpa bukti, koflik Arab-Israel 1948, 1956, 1967, dan 1973. Pada tahun 1980-an perubahan konstelasi konflik berubah lagi kali ini Iran-Irak 1980-1988 yang berhasil ditundukkan Irak saat masih dipimpin oleh Saddam Hussein, kemudian perubahan konfigurasi konflik timur tengah berubah lagi kali ini Irak-Arab yang berseteru setelah Irak menginvasi Kuwait pada 1990.

Paska invasi Amerika terhadap Irak pada 2003 yang mengakibatkan lengsernya rezim Saddam Hussein, arah konflik timur tengah berubah ke Iran dan Arab Saudi. Sebelumyna Arab Saudi mendukung penuh pemerintahan Irak ketika Irak sedang berkonflik dengan Iran 1980-an. Tetapi karena perbedaan pandangan ketika Amerika menginvasi Irak seolah-olah Arab Saudi tak bertaji menghadapi permainan manuver yang dilakukan AS dan sekutu. Akibatnya Saddam Hussein tak tertolong dan berhasil dilengserkan sebagai orang nomer satu di Irak.

Sejak saat itu kedua negara berperang secara tidak langsung (proxy war) pertarungan ini mulai muncul ke permukaan setelah Iran dipimpin oleh Ahmadinejad yang dengan tegas menolak segala aspek berbau kepentingan AS dan sekutu. Setelah Ahmadinejad memimpin selama dua periode (delapan tahun) dan digantikan oleh Ayatollah Khamenei yang notaben memiliki kedekatan personal dengan pemimpin revolusi Iran terdahulu. Dengan demikian, konflik Iran-Arab tambah merambah jauh dalam skalasi konflik timur tengah. Bukti nyata mengenai perbedaan pandangan mengenai konflik di Suriah.

Gengsi di Suriah

Iran merupakan negara yang mayoritas penduduknya menganut mazhab Syiah Jakfariyah punya pandangan sendiri dan mendukung total pemerintahan Bashar al-Asaad bersama Rusia dan China. Ini adalah langkah tegas yang diambil Iran. Terus menyuarakan pentingnya negara tak ikut campuri urusan negara apalagi sampai mencampuri urusan pemerintahan dalam suatu negara. Mereka mendukung bukan tanpa alasan, konflik Suriah bagi Iran merupakan pertaruhan gepolitik di timur tengah dan kembali mempertegas bahwa Iran dan Arab Saudi tidak akan pernah akur dalam pandangan politik negaranya. Bagi Iran Bashar al-Asaad sendiri sebenarnya bukan berlatar belakang Syiah Jakfariyah (Iran) tetapi bermazhab Alawiyah. Namun karena gengsi politik mereka masing-masing kemungkinan susah untuk diajak berunding satu meja.

Langkah yang seharusnya diambil keduanya mempertemukan titik temu Sunni-Syiah dan bukan berkonflik sehingga dapat mengembalikan ukhuwah islamiyah di penjuru dunia. Tetapi gengsi yang ditonjolkan sudah menghapus rasa solidaritas di internal sesama muslim. Disamping itu, mereka cenderung tak memperdulikan negara-negara tetangganya. Arab saudi yang memiliki popularitas kurang-lebih 30 juta penduduk terlanjur nyaman bermain catur dengan barat. Buktinya, semenjak eksekusi terhadap ulama Syiah Syeikh Nimr al-Nimr banyak pihak dari negara luar (Lebanon, Bahrain, Irak, Jordania, Suriah, etc) mengecam keras langkah Arab Saudi. Gaya politik Arab Saudi memang berada di atas angin dan Posisi Iran cenderung terisolasi paska eksekusi ini.

Akan tetapi, apabila ini terus berlarut Iran yang didukung Rusia dan China tetap memiliki peran besar dalam politik internasional. Konflik di Suriah bagi Iran dan sekutunya tetap menginginkan Bashar al-Asaad layak memimpin Suriah. Sementara lagi-lagi Arab Saudi bersikukuh menginginkan adanya perubahan di Suriah dan memberikan peran yang besar terhadap pihak opisisi (mayoritas Sunni) untuk mengambil alih pemerintahan. jika Bashar al-Asaad tidak dilengserkan baginya ditakutkan pelanggaran HAM terus meluas, sebab tiap hari hampir selalu ada pembunuhan di mana-mana yang dilakukan pro militer Suriah kepada oposisi. Arab Saudi bukan tanpa teman, mereka bersama Amerika, Ingris, dan Perancis berada di belakangnya demi menggulingkan rezim Bashar al-Asaad yang sudah lama memimpin dan situasi di Suriah sendiri terpecah-pecah paska adanya revolusi tahun 2011 silam.

Di balik itu semua, menurut Vali Nasr (2016), di samping eksekusi mati Sheikh Nimr al-Nimr semakin memperburuk hubungan Iran-Arab Saudi, sebenarnya ada agenda yang lebih besar, yaitu narasi sektarian konflik Sunni-Syiah. Pasalnya tidak ada alasan kuat untuk menghukum mati Sheikh Nimr al-Nimr. Memvonis Sheikh Nimr al-Nimr dengan alasan melakukan aksi terorisme amat berlebihan. Tak ada bukti kuat, apalagi ia disandingkan dengan Faris Suwail, warga Mesir yang menjadi tangan kanan Ayman al-Zawahiri.

Semoga rentetan peristiwa kepentingan politik yang menimpa Iran-Arab Saudi cepat atau lambat dapat terealisasi dan bisa duduk satu meja berunding guna menjaga pentingnya stabilitas politik di timur tengah. Masyarakat timur tengah menunggu itu....*****

Penulis adalah Mahasiswa Hubungan Internasional UMM Malang dan aktif di Peneliti Kajian Timur Tengah (COMEs)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar