Dekade terakhir abad 20 ditandai dengan perubahan signifikan pada
skala global. Berakhirnya perang dingin dan konfrontasi ideologis, menurunnya
kedaulatan negara, dan penyebaran globalisasi telah memicu pemikiran akademis
dalam disiplin ilmu hubungan internasional dan melahirkan debat akademik
tentang sifat dari politik global.
Berbicara Hubungan Internasional, maka kita akan terbayang-bayang dengan teori atau pendekatan yang dari dulu telah eksis seperti realisme dan liberalisme. Namun akhir-akhir ini muncul satu pendekatan baru yang dikenal konstruktivisme. Konstruktivisme sendiri lahir pada 1980-an akibat debat neorealisme dan neoliberalisme, hal ini didasarkan karena kubu konstruktivisme ingin menjebatani atau penengah di antara kedua belah pihak. Konstruktivisme sendiri masih belum dapat dikatakan sebagai sebuah teori selayaknya realisme dan liberalisme, namun disebut sebagai sebuah perspektif (Steans et al, 2010:186).
Berbicara Hubungan Internasional, maka kita akan terbayang-bayang dengan teori atau pendekatan yang dari dulu telah eksis seperti realisme dan liberalisme. Namun akhir-akhir ini muncul satu pendekatan baru yang dikenal konstruktivisme. Konstruktivisme sendiri lahir pada 1980-an akibat debat neorealisme dan neoliberalisme, hal ini didasarkan karena kubu konstruktivisme ingin menjebatani atau penengah di antara kedua belah pihak. Konstruktivisme sendiri masih belum dapat dikatakan sebagai sebuah teori selayaknya realisme dan liberalisme, namun disebut sebagai sebuah perspektif (Steans et al, 2010:186).
Bagi kaum konstruktivis kondisi dunia merupakan hasil dari konstruksi
manusia selama ini (Steans et al, 2010:187). Asusmsi ini mengaggap bahwa tidak
ada sesuatu yang tercipta hal ini sudah terkonstruksi sedemikian rupa oleh
norma, nilai dan peraturan yang sudah ada dengan sendirinya seperti halnya yang
diungkapkan oleh realis maupun liberalis bahwa segala tindakan negara itu
didasari oleh sifat dasar manusia, baik yang bersifat konfliktual maupun
kooperatif.
Meskipun dalam prakteknya perspektif konstruktivisme sangat beragam
dan berbeda pandangan di sejumlah isu, sebagian besar konstruktivis sepakat
bahwa aspek penentu dari pendekatan ini adalah ide tentang politik
internasional yang dikonstruksi secara sosial. Ide ini merangkum dua proses
yang saling berhubungan: (1) lingkungan sosial membuat individu, negara atau
aktor politik dunia lainnya menjadi entitas atau makhluk seperti sekarang; (2)
sebaliknya, individu, negara dan aktor politik dunia menciptakan dunia
sebagaimana seperti saat ini melalui berbagai bentuk interaksi satu sama lain
(Onuf, 1998).
Bagi konstruktivis, lingkungan yang mengelilingi negara dan aktor
politik dunia adalah lingkungan sosial dan materiel (Checkel, 1998; Jeperson,
Wendt, & Katzenstein, 1996). Dunia sosial terdiri dari berbagai macam ide
dan pengetahuan, sedangkan dunia materiel memanifestasikan diri dalam kehadiran
persenjataan nuklir, absensi pemerintah dunia, dan manifestasi lain yang dapat
diamati dalam hubungan internasional. Kita ambil contoh hak asasi manusia. Hak
asasi ini adalah konstruksi atau ciptaan pikiran manusia yang eksis sebab praktek
dan keyakinan individu pada hak asasi manusia memperkuat eksistensinya (Schmitz
& Sikkink, 2002). Keyakinan, pemahaman, pengetahuan, kultur dan norma yang
dianut bersama ini merupakan konteks ideasional yang menurut konstruktivis
berdampak kuat pada politik dunia sebab ia mendefinisikan makna dari apa-apa
yang dialami dan dijumpai individu. Banyak perilaku yang berbeda-beda dalam
hubungan internasional yang sangat mustahil tanpa pemahaman ini, sebab orang
dan negara bertindak satu sama lain berdasarkan makna yang mereka nisbahkan
pada mereka (Hopf, 1998; Wendt, 1992).
Maka efek dari ide ini akan merusak efek lebih dalam ketimbang perilaku dan kebijakan negara. Konteks ideasional memengaruhi karakter dasar dari negara, yaitu “pemahaman dan ekspektasi tentang peran diri yang spesifik dan stabil” (Wendt, 1992, h. 398). Identitas aktor ini memberitahu mereka sendiri dan orang lain tentang siapa diri mereka dan mendorong mereka untuk mengejar kepentingan tertentu dan memilih beberapa tindakan ketimbang tindakan lainnya.
Wendt misalnya berspekulasi bahwa sistem internasional dari negara-negara setidaknya bisa memiliki konteks ideasional seperti “Hobbesian, Lockian, atau Kantian” yang dibedakan berdasarkan apa jenis peran-musuh, pesaing, atau kawan yang mendominasi sistem. Masing-masing konteks ideasional itu mengarahkan negara untuk mengambil posisi atau orientasi yang berbeda satu sama lain dalam hal penggunaan kekerasan. Menurut Wendt, sistem kontemporer mengandung struktur Lockean di mana negara mengambil identitas peran rival, mengakui hak masing-masing untuk hidup dan bebas, dan membatasi kekerasan terhadap satu sama lain dengan mengakui hak negara lain untuk eksis.
Salah satu aktor penting dari pendekatan konstruktivis adalah kemampuannya untuk menjelaskan apa yang tidak bisa dijelaskan perspektif teori mainstream-yaitu, yaitu menjelaskan perubahan dalam struktur dan agen politik internasional, termasuk pergeseran tujuan, perilaku, dan strategi negara (Locher & Prugl, 2001). Menurut konstruktivis, preferensi dan kepentingan adalah produk dari aktivitas manusia; oleh karenanya, mereka dapat berubah melalui pelaksanaan praktek baru, meskipun proses ini belum jadi bertahap dan lambat (Wendt, 1999). Disisi lain bagi realis dan liberal, perubahan kualitatif dalam kepentingan dan tujuan adalah sulit untuk dijelaskan karena mereka dipostulatkan sebagai aspek yang berada di luar aktor dan karenanya bukan variabel.
Dari penjelasan di atas, penulis dapat menyimpulkan bahwa
konstruktivisme dalam hubungan internasional adalah sebuah pendekatan yang
relatif baru yang fokus pada konstruksi sosial dari politik dunia. Ini
menekankan pada faktor-faktor ideasional, seperti ide, keyakinan, dan
pengetahuan, serta efek konstitutif dan regulatifnya terhadap realitas sosial
dan agen-agen yang membuat, mereproduksi, dan mereifikasinya. Konteks
ideasional ini memengaruhi perilaku dan identitas aktor dengan memberikan objek
materiel, termasuk aktor lain, yang dengannya mereka berinteraksi dengan makna
tertentu....*****

Tidak ada komentar:
Posting Komentar