Powered By Blogger

Rabu, 21 Oktober 2015

Liberalisme



Dalam studi Hubungan Internasional terdapat berbagai perspektif mengenai fenomena ataupun permasalahan yang terjadi dalam lingkup nasional maupun internasional. Liberalisme muncul antara abad ke-17 dan 19 di Prancis, Inggris, dan Amerika Serikat. Tokoh-tokoh liberal seperti filsuf Prancis pra-revolusi Voltaire (Francois Marie Arouet) (1694-1778), yang memerangi intoleransi dan takhayul, Denis Diderot (1713-1784), yang percaya pada nilai pengetahuan dan reformasi sosial. Tokoh liberal lain yang tak kalah saing adalah filsuf Jerman Immanuel Kant (1724-1804), yang mendukung ilmu pengetahuan dan nalar, menyukai kewarganegaraan global dan ungkapannya yang paling terkenal terutama bagi negara penganut demokrasi, bagi Kant demokrasi lebih damai daripada otokrasi. Negara demokrasi tidak akan mengalami konflik sesama negara demokrasi. Filsuf lain dari Inggris John Locke (1632-1704), yang berpendapat bahwa rakyat memiliki hak-hak yang tak bisa dicabut, dan paling terkenal yakni Adam Smith (1723-1790), penulis The Wealth of Nation, seorang bapak kapitalisme, penganjur perdagangan bebas, dan penentang perbudakan yang banyak dilakukan pada saat itu.
Sama dengan teoritisasi yang lainnya aliran-aliran dalam liberal sangat beragam apalagi untuk diuraikan satu-persatu, maka tidaklah mungkin bagi saya untuk menyebutkannya satu-persatu mulai bagaimana pemikiran kaum liberal dibangun dari pemikiran kaum liberal klasik sampai pada kontemporer saat ini. Liberal banyak memberikan sumbangan terhadap penyelesaian konflik dan perang antar negara. Memang dahulu teori liberal datang untuk menyelamatkan manusia dalam bernegara yang beragam bentuk kekerasan seperti penjajahan negara, perbudakan, konflik dan peperangan.
Kaum liberal klasik percaya pada pemikiran yang positif dan optimis yang pada dasarnya ada pada diri manusia, ingin bekerjasama daripada berkonflik seperti yang digembor-gemborkan oleh kaum realis serta menggunakan rasionalitas dan hal-hal yang masuk akal untuk menghadapi berbagai permasalahan yang sedang terjadi entah dalam nasional atau internasional. Pandangan liberalis menekankan pada interdependensi dan kerjasama. Sejarah bergerak ke arah perbaikan kehidupan individu, bahwa perbaikan seperti itu merupakan kepentingan setiap orang, bagi kaum liberal hal yang demikian seharusnya menjadi tujuan setiap orang. Seperti ungkapan arsitek Liga Bangsa-Bangsa- Presiden AS Woodrow Wilson yang juga dikenal sebagai tokoh yang paling sering dikaitkan dengan idealisme (liberal) antarperang yang kemudian diaplikasikan ke politik internasional, yang belakangan oleh liberal kontemporer dikarikaturkan sebagai idealis, karena idealis lebih menekankan pada hukum internasional dan pemerintahan untuk menjaga dan melindungi kebebasan yang dimiliki individu dalam keadaan alaminya.
Wilson memuat visinya tentang landasan liberal baru bagi politik internasional yang menekankan pada promosi demokrasi dan penentuan nasib sendiri berdasarkan keyakinan bahwa demokrasi tidak akan berperang satu sama lain seperti yang diungkapkan diatas oleh Kant. Visi lain adalah penciptaan organisasi internasional yang dituangkan dalam hukum internasional yang akan menggantikan sistem keseimbangan kekuatan yang tak stabil, yang dianggapnya gagal untuk mencegah peperangan. Oleh sebab itu Liga Bangsa-Bangsa (LBB) yang kemudian diganti PBB dibentuk untuk mempromosikan kerjasama perdamaian antarnegara berdasarkan ide untuk mengakhiri konflik atau peperangan demi terciptanya suatu perdamaian antar negara. Akan tetapi terjadilah PD II pada 1 september 1939 sehingga kaum liberal dianggap gagal untuk mengakomodir perdamaian ataupun salah dalam menganalisa sejarah, karena masih ada peperangan setelah PD I walaupun sudah dibentuk organisasi internasional seperti Liga Bangsa-Bangsa. Hal demikian telah membuat kubu realis kembali menjadi yang terdepan karena bagi mereka dalam hubungan negosiasi antar negara untuk suatu kasus besar atau kecil selalu terjadi permainan politik kekuatan yang berbahaya tanpa batasan berdasarkan keseimbangan kekuatan yang tidak stabil.
Dalam hubungan internasional anda dibutuhkan pemahaman dan analisa kuat untuk membentuk pandangan sendiri mengenai isu yang sangat tajam dalam HI. Pandangan pesimis realisme melawan pandangan optimis liberalisme. Pada dasarnya liberal adalah kebalikan dari realis yang terlalu pesimis terhadap negara sebagai aktor tunggal dan perang jadi jalan keluarnya. Liberal lebih menekankan pada sisi positif tentang sifat manusia. Mereka memiliki keyakinan besar terhadap akal pikiran manusia dan mereka yakin bahwa prinsip-prinsip rasional dapat dipakai pada masalah-masalah internasional. Tetapi mereka juga percaya bahwa individu-individu memiliki banyak kepentingan dan dengan demikian terlibat dalam aksi sosial yang kolaboratif dan kooperatif, baik dalam domestik ataupun internasional. Dengan kata lain konflik dan perang tidak dapat dihindarkan; namun ketika manusia memakai akal pikirannya yang terdapat sifat kebaikan maka mereka akan dapat mencapai kerjasama yang saling menguntungkan. Kaum liberal juga percaya bahwa akal pikiran manusia dapat mengalahkan ketakutan manusia dan nafsu akan kekuasaan seperti yang disinggung oleh realis.
Oleh karena itu pemikiran kaum liberal sangat erat kaitannya dalam studi hubungan internasional sebagai penstudi HI maka diharapkan kedepannya untuk mencapai kemajuan manusia harus dijadikan prioritas yang utama dari kerjasama tersebut. Dengan kemunculan negara konstitusional modern. Bagi kaum liberal proses modernisasi adalah proses yang menimbulkan kemajuan dalam banyak bidang kehidupan. Kemajuan berarti kehidupan lebih baik bagi setiap individu. Sebab manusia memiliki akal pikiran, dan ketika mereka menggunakannya pada masalah internasional, kerjasama yang lebih besar akan menjadi hasil akhir....*****

Tidak ada komentar:

Posting Komentar