Dalam studi Hubungan Internasional terdapat berbagai perspektif
mengenai fenomena ataupun permasalahan yang terjadi dalam lingkup nasional
maupun internasional. Liberalisme muncul antara abad ke-17 dan 19 di Prancis,
Inggris, dan Amerika Serikat. Tokoh-tokoh liberal seperti filsuf Prancis
pra-revolusi Voltaire (Francois Marie Arouet) (1694-1778), yang memerangi
intoleransi dan takhayul, Denis Diderot (1713-1784), yang percaya pada nilai
pengetahuan dan reformasi sosial. Tokoh liberal lain yang tak kalah saing
adalah filsuf Jerman Immanuel Kant (1724-1804), yang mendukung ilmu pengetahuan
dan nalar, menyukai kewarganegaraan global dan ungkapannya yang paling terkenal
terutama bagi negara penganut demokrasi, bagi Kant demokrasi lebih damai daripada
otokrasi. Negara demokrasi tidak akan mengalami konflik sesama negara
demokrasi. Filsuf lain dari Inggris John Locke (1632-1704), yang berpendapat
bahwa rakyat memiliki hak-hak yang tak bisa dicabut, dan paling terkenal yakni
Adam Smith (1723-1790), penulis The Wealth of Nation, seorang bapak
kapitalisme, penganjur perdagangan bebas, dan penentang perbudakan yang banyak
dilakukan pada saat itu.
Sama dengan teoritisasi yang lainnya aliran-aliran dalam liberal
sangat beragam apalagi untuk diuraikan satu-persatu, maka tidaklah mungkin bagi
saya untuk menyebutkannya satu-persatu mulai bagaimana pemikiran kaum liberal
dibangun dari pemikiran kaum liberal klasik sampai pada kontemporer saat ini.
Liberal banyak memberikan sumbangan terhadap penyelesaian konflik dan perang
antar negara. Memang dahulu teori liberal datang untuk menyelamatkan manusia dalam
bernegara yang beragam bentuk kekerasan seperti penjajahan negara, perbudakan,
konflik dan peperangan.
Kaum liberal klasik percaya pada pemikiran yang positif dan optimis
yang pada dasarnya ada pada diri manusia, ingin bekerjasama daripada berkonflik
seperti yang digembor-gemborkan oleh kaum realis serta menggunakan rasionalitas
dan hal-hal yang masuk akal untuk menghadapi berbagai permasalahan yang sedang
terjadi entah dalam nasional atau internasional. Pandangan liberalis menekankan
pada interdependensi dan kerjasama. Sejarah bergerak ke arah perbaikan
kehidupan individu, bahwa perbaikan seperti itu merupakan kepentingan setiap
orang, bagi kaum liberal hal yang demikian seharusnya menjadi tujuan setiap
orang. Seperti ungkapan arsitek Liga Bangsa-Bangsa- Presiden AS Woodrow Wilson
yang juga dikenal sebagai tokoh yang paling sering dikaitkan dengan idealisme (liberal)
antarperang yang kemudian diaplikasikan ke politik internasional, yang
belakangan oleh liberal kontemporer dikarikaturkan sebagai idealis, karena
idealis lebih menekankan pada hukum internasional dan pemerintahan untuk
menjaga dan melindungi kebebasan yang dimiliki individu dalam keadaan alaminya.
Wilson memuat visinya tentang landasan liberal baru bagi politik
internasional yang menekankan pada promosi demokrasi dan penentuan nasib
sendiri berdasarkan keyakinan bahwa demokrasi tidak akan berperang satu sama
lain seperti yang diungkapkan diatas oleh Kant. Visi lain adalah penciptaan
organisasi internasional yang dituangkan dalam hukum internasional yang akan
menggantikan sistem keseimbangan kekuatan yang tak stabil, yang dianggapnya
gagal untuk mencegah peperangan. Oleh sebab itu Liga Bangsa-Bangsa (LBB) yang
kemudian diganti PBB dibentuk untuk mempromosikan kerjasama perdamaian
antarnegara berdasarkan ide untuk mengakhiri konflik atau peperangan demi
terciptanya suatu perdamaian antar negara. Akan tetapi terjadilah PD II pada 1
september 1939 sehingga kaum liberal dianggap gagal untuk mengakomodir
perdamaian ataupun salah dalam menganalisa sejarah, karena masih ada peperangan
setelah PD I walaupun sudah dibentuk organisasi internasional seperti Liga
Bangsa-Bangsa. Hal demikian telah membuat kubu realis kembali menjadi yang
terdepan karena bagi mereka dalam hubungan negosiasi antar negara untuk suatu
kasus besar atau kecil selalu terjadi permainan politik kekuatan yang berbahaya
tanpa batasan berdasarkan keseimbangan kekuatan yang tidak stabil.
Dalam hubungan internasional anda dibutuhkan pemahaman dan analisa kuat
untuk membentuk pandangan sendiri mengenai isu yang sangat tajam dalam HI.
Pandangan pesimis realisme melawan pandangan optimis liberalisme. Pada dasarnya
liberal adalah kebalikan dari realis yang terlalu pesimis terhadap negara
sebagai aktor tunggal dan perang jadi jalan keluarnya. Liberal lebih menekankan
pada sisi positif tentang sifat manusia. Mereka memiliki keyakinan besar
terhadap akal pikiran manusia dan mereka yakin bahwa prinsip-prinsip rasional
dapat dipakai pada masalah-masalah internasional. Tetapi mereka juga percaya
bahwa individu-individu memiliki banyak kepentingan dan dengan demikian
terlibat dalam aksi sosial yang kolaboratif dan kooperatif, baik dalam domestik
ataupun internasional. Dengan kata lain konflik dan perang tidak dapat
dihindarkan; namun ketika manusia memakai akal pikirannya yang terdapat sifat
kebaikan maka mereka akan dapat mencapai kerjasama yang saling menguntungkan.
Kaum liberal juga percaya bahwa akal pikiran manusia dapat mengalahkan
ketakutan manusia dan nafsu akan kekuasaan seperti yang disinggung oleh realis.
Oleh karena itu pemikiran kaum liberal sangat erat kaitannya dalam
studi hubungan internasional sebagai penstudi HI maka diharapkan kedepannya
untuk mencapai kemajuan manusia harus dijadikan prioritas yang utama dari
kerjasama tersebut. Dengan kemunculan negara konstitusional modern. Bagi kaum
liberal proses modernisasi adalah proses yang menimbulkan kemajuan dalam banyak
bidang kehidupan. Kemajuan berarti kehidupan lebih baik bagi setiap individu.
Sebab manusia memiliki akal pikiran, dan ketika mereka menggunakannya pada
masalah internasional, kerjasama yang lebih besar akan menjadi hasil akhir....*****


Tidak ada komentar:
Posting Komentar