Marxisme adalah salah satu ideologi politik paling berpengaruh di
abad 19 dan 20. Ide-idenya tak hanya mengilhami berbagai aliran pemikiran,
tetapi ide-idenya juga memicu debat sengit mengenai banyak isu, seperti
keseimbangan negara dan pasar dalam produksi dan peran pemerintah yang tepat
dalam masyarakat. Ide-ide Marxisme banyak dipengaruhi oleh tulisan filsuf
Jerman Friedrich Hegel (1770-1831) dan filsafat idealisme dialektiknya.
Nama aslinya adalah Karl Heinrich Marx lahir di Trier, Jerman, 5
Mei 1818, anak dari pasangan Hirschel dan Henrietta Marx. Ayahnya adalah
seorang pengacara yang terkemuka di kota itu, lelaki yang beralih kepercayaan
dari penganut Agama Yahudi ke Protestan demi untuk mempertahankan pekerjaannya.
Marx menulis berbagai buku salah satunya adalah “The Communist
Manifesto dan The Capital” dan halaman yang telah dipublikasikan di
berbagai media terutama sesudah ia meninggal dunia. Pemikiran Marx memunculkan
beberapa tema fundamental. Pertama, Marx mendasarkan teori-teorinya pada beberapa
asumsi yang mengemuka dalam pemikiran ekonomi. Pertama adalah teori nilai
kerja teori ini adalah pilar utama bagi kaum marxist. Pada dasarnya nilai
dari suatu komoditas ditentukan oleh jumlah tenaga kerja yang diinvestasikan ke
dalam komoditas. Misalnya, kapak kuno yang dibuat dari besi, kayu dan batu akan
lebih berharga ketimbang komponen yang menjadi bagiannya karena adanya
pekerjaan yang diinvestasikan di dalamnya.
Berdasarkan
asumsi ekonomi umum periode ini, Marx menyusun pandangan komprehensif tentang
evolusi sejarah manusia yang mencakup beberapa elemen utama. Pertama
pandangannya tentang hakikat atau sifat manusia, yang kedua berkaitan dengan
pandangannya tentang determinisme ekonomi dan materialisme dialektik dan
historis, serta penjelasannya tentang peran sosialisme revolusioner pada saat
itu yang ingin menggantinya dari sistem kapitalis ke komunis.
Sifat
Manusia
Teori sosialisme Marx berasal dari perspektifnya tentang sifat
manusia. Dia dan teman akrabnya Engels menegaskan dalam German Ideology
bahwa pada waktu-waktu tertentu dalam sejarah manusia, kondisi “natural”
manusia sangat dipengaruhi oleh kondisi materiel dan sosial yang dominan pada
saat itu (Tucker, 1978). Dalam perspektif ini yang dikemukakan oleh Marx dan
Engel manusia tidak dilahirkan dengan membawa sesuatu berbeda dengan teori
liberal yang berbicara tentang hak dasar natural pada abak ke-18. Secara
khusus, hal ini akan memengaruhi apa yang akan kita lakukan sebagai manusia.
Menurut pandangan Marx manusia memiliki kemampuan untuk membentuk dan mengubah
kondisi materielnya. Karena itu, Marx mengklaim bahwa manusia adalah partisipan
dalam menciptakan kesadarannya sendiri, bukan lembar kosong yang sifatnya
diubah perubahan dalam kondisi materiel. Namun manusia adalah makhluk yang
paling unik sebab manusia adalah satu-satunya makhluk yang sadar akan tindakan
produktifnya sendiri dan memiliki keinginan natural untuk memproduksi hal-hal
yang bisa mereka bayangkan.
Berdasarkan asumsinya tentang sifat manusia (bahwa manusia pada
dasarnya adalah makhluk ekonomi), Marx berpendapat bahwa segala sesuatu yang
dibuat manusia memiliki tujuan ekonomi. Jadi, segala sesuatu-agama, kultur,
hukum, pemerintahan-dirancang untuk tujuan ekonomi tertentu, umunya untuk menjaga
kelas dominan tetap berkuasa. Marx mengkaji kondisi materiel dominan di
berbagai momen sejarah dan menyatakan bahwa
setiap kondisi dominan akan melahirkan kondisi konflik. Di tangan
manusia, kondisi kontrakisi menimbulkan konflik, yang mana kadang-kadang
konflik menjadi sangat mendalam dan tak bisa diselesaikan sehingga mengubah
perkembangan manusia secara mendasar. Manusia mendorong ini melalui beberapa
tindakan kolektif dan terutama sebagai anggota kelas sosial-ekonomi. Akibatnya
sejarah bergerak melalui tahapan yang berbeda, dan dalam masing-masing
perbedaan kita akan menemui kontradiksi (konflik kelas). Marx membagi tahapan
itu; komunisme primitif, masyarakat budak, feodalisme, kapitalisme,
sosialisme dan komunisme.
Namun penulis menyadari hal ini tidaklah mungkin untuk diuraikan
satu-persatu mengingat teori Marxisme adalah salah satu yang paling kompleks
sehingga penulis lebih memilih untuk menguraikan yang inti-intinya saja apa
yang terkandung dalam teori Marxisme. Jadi tahapan inilah yang nantinya
menyebabkan munculnya masyarakat kapitalis dari feodalisme. Dan kaum borjuis
akan berjaya. Karena kaum proletariat menghasilkan semua nilai sebagai hasil
kerjanya pada kaum borjuis, namun mereka hanya mendapat sebagian kecil dari
nilai yang dikembalikan borjuis kepada mereka. Karena kaum proletariat hanya
tunduk dan patuh terhadap peraturan yang diterapkan oleh kaum borjuis yang
memiliki kekuasaan. Maka dapat dipastikan hal yang demikian bagi kaum borjuis
sangat efektif untuk menukar dengan upah dengan mengeksploitasi proletariat
secara terus-menerus. Relasi ekspoitatif ini adalah bagian esensial dari proses
produksi kapitalis. Nilai surplus digunakan borjuis untuk berinvestasi ulang,
memodernisasikan, dan mengembangkan kapasitas produksinya. Hal ini dilakukan
agar tidak disingkirkan oleh pesaing dari kelas yang sama. Oleh karena itu
sistem kapitalisme yang dianut oleh kaum proletariat mengalami perubahan
seiring berjalannya waktu. Maka muncullah komunisme untuk menggantikan sitem
kapitalisme.
Komunisme itu sendiri merupakan hal harus ditegakkan oleh para para
proletariat (buruh) bersatu supaya dapat menghancurkan kapitalisme. Selama masa
transisi ini, sosialisme menjadi
tonggak tunggal sebagai penggiring komunisme baru. Marx mengatakan bahwa dalam
masyarakat sosialis, sebagai imbalan atas sejumlah pekerjaan, buruh akan
menerima sarana konsumsi dalam jumlah yang ekuivalen atau sebagaimana yang
diadopsi oleh Uni Soviet, “masing-masing memperoleh sesuai kemampuan,
masing-masing menerima sesuai kerjanya.”
Komunisme penuh akan memiliki beberapa ciri utama (Marx &
Engels, 1848). Bagi mereka hal itu akan menjadi masyarakat tanpa kelas, karena
perbedaan kelas hilang. Kita mungkin akan bertanya kenapa perbedaan kelas bisa
hilang. Mengingat kembali dari penjelasan Marx diatas tentang sejarah hampir
semuanya didasarkan pada konflik kelas sebagai sesuatu yang muncul “secara
natural.” Kapitalisme sangat produktif secara materiel sehingga tak lagi
menginginkan sesuatu. Teknologi memberikan kelimpahan materiel sehingga tidak
ada lagi kebutuhan untuk membagi antara orang yang punya dan tidak, tak ada
lagi kelas. Akibatnya, karena negara dianggap sebagai kelas dominan, komunisme
pada akhirnya akan menjadi masyarakat tanpa negara sebab negara pada akhirnya
akan “hilang” kegunaannya. Menurut Marx, di bawah komunisme, orang akan bebas
untuk melakukan apa yang mereka suka.
Dengan
tidak menguatnya konsep dasar yang dilakukan Marx terhadap kapitalisme, maka
Marx memasukkan revolusione profesional sebagai respon atau pencerahan bagi
proletariat dan membantu mereka membentuk kelas, yang kelak dimaksudkan untuk
menggulingkan supremasi borjuis dan merebut kekuasaan politik. Peran ini adalah
untuk mempersiapkan proletariat untuk menjalankan misi revolusi dengan
memberikan pendidikan massa tentang tujuan historis mereka....*****


Tidak ada komentar:
Posting Komentar