Powered By Blogger

Jumat, 13 November 2015

Marxisme



Marxisme adalah salah satu ideologi politik paling berpengaruh di abad 19 dan 20. Ide-idenya tak hanya mengilhami berbagai aliran pemikiran, tetapi ide-idenya juga memicu debat sengit mengenai banyak isu, seperti keseimbangan negara dan pasar dalam produksi dan peran pemerintah yang tepat dalam masyarakat. Ide-ide Marxisme banyak dipengaruhi oleh tulisan filsuf Jerman Friedrich Hegel (1770-1831) dan filsafat idealisme dialektiknya.
Nama aslinya adalah Karl Heinrich Marx lahir di Trier, Jerman, 5 Mei 1818, anak dari pasangan Hirschel dan Henrietta Marx. Ayahnya adalah seorang pengacara yang terkemuka di kota itu, lelaki yang beralih kepercayaan dari penganut Agama Yahudi ke Protestan demi untuk mempertahankan pekerjaannya.
Marx menulis berbagai buku salah satunya adalah “The Communist Manifesto dan The Capital” dan halaman yang telah dipublikasikan di berbagai media terutama sesudah ia meninggal dunia. Pemikiran Marx memunculkan beberapa tema fundamental. Pertama, Marx mendasarkan teori-teorinya pada beberapa asumsi yang mengemuka dalam pemikiran ekonomi. Pertama adalah teori nilai kerja teori ini adalah pilar utama bagi kaum marxist. Pada dasarnya nilai dari suatu komoditas ditentukan oleh jumlah tenaga kerja yang diinvestasikan ke dalam komoditas. Misalnya, kapak kuno yang dibuat dari besi, kayu dan batu akan lebih berharga ketimbang komponen yang menjadi bagiannya karena adanya pekerjaan yang diinvestasikan di dalamnya.
Berdasarkan asumsi ekonomi umum periode ini, Marx menyusun pandangan komprehensif tentang evolusi sejarah manusia yang mencakup beberapa elemen utama. Pertama pandangannya tentang hakikat atau sifat manusia, yang kedua berkaitan dengan pandangannya tentang determinisme ekonomi dan materialisme dialektik dan historis, serta penjelasannya tentang peran sosialisme revolusioner pada saat itu yang ingin menggantinya dari sistem kapitalis ke komunis.
Sifat Manusia
Teori sosialisme Marx berasal dari perspektifnya tentang sifat manusia. Dia dan teman akrabnya Engels menegaskan dalam German Ideology bahwa pada waktu-waktu tertentu dalam sejarah manusia, kondisi “natural” manusia sangat dipengaruhi oleh kondisi materiel dan sosial yang dominan pada saat itu (Tucker, 1978). Dalam perspektif ini yang dikemukakan oleh Marx dan Engel manusia tidak dilahirkan dengan membawa sesuatu berbeda dengan teori liberal yang berbicara tentang hak dasar natural pada abak ke-18. Secara khusus, hal ini akan memengaruhi apa yang akan kita lakukan sebagai manusia. Menurut pandangan Marx manusia memiliki kemampuan untuk membentuk dan mengubah kondisi materielnya. Karena itu, Marx mengklaim bahwa manusia adalah partisipan dalam menciptakan kesadarannya sendiri, bukan lembar kosong yang sifatnya diubah perubahan dalam kondisi materiel. Namun manusia adalah makhluk yang paling unik sebab manusia adalah satu-satunya makhluk yang sadar akan tindakan produktifnya sendiri dan memiliki keinginan natural untuk memproduksi hal-hal yang bisa mereka bayangkan.
Berdasarkan asumsinya tentang sifat manusia (bahwa manusia pada dasarnya adalah makhluk ekonomi), Marx berpendapat bahwa segala sesuatu yang dibuat manusia memiliki tujuan ekonomi. Jadi, segala sesuatu-agama, kultur, hukum, pemerintahan-dirancang untuk tujuan ekonomi tertentu, umunya untuk menjaga kelas dominan tetap berkuasa. Marx mengkaji kondisi materiel dominan di berbagai momen sejarah dan menyatakan bahwa  setiap kondisi dominan akan melahirkan kondisi konflik. Di tangan manusia, kondisi kontrakisi menimbulkan konflik, yang mana kadang-kadang konflik menjadi sangat mendalam dan tak bisa diselesaikan sehingga mengubah perkembangan manusia secara mendasar. Manusia mendorong ini melalui beberapa tindakan kolektif dan terutama sebagai anggota kelas sosial-ekonomi. Akibatnya sejarah bergerak melalui tahapan yang berbeda, dan dalam masing-masing perbedaan kita akan menemui kontradiksi (konflik kelas). Marx membagi tahapan itu; komunisme primitif, masyarakat budak, feodalisme, kapitalisme, sosialisme dan komunisme.
Namun penulis menyadari hal ini tidaklah mungkin untuk diuraikan satu-persatu mengingat teori Marxisme adalah salah satu yang paling kompleks sehingga penulis lebih memilih untuk menguraikan yang inti-intinya saja apa yang terkandung dalam teori Marxisme. Jadi tahapan inilah yang nantinya menyebabkan munculnya masyarakat kapitalis dari feodalisme. Dan kaum borjuis akan berjaya. Karena kaum proletariat menghasilkan semua nilai sebagai hasil kerjanya pada kaum borjuis, namun mereka hanya mendapat sebagian kecil dari nilai yang dikembalikan borjuis kepada mereka. Karena kaum proletariat hanya tunduk dan patuh terhadap peraturan yang diterapkan oleh kaum borjuis yang memiliki kekuasaan. Maka dapat dipastikan hal yang demikian bagi kaum borjuis sangat efektif untuk menukar dengan upah dengan mengeksploitasi proletariat secara terus-menerus. Relasi ekspoitatif ini adalah bagian esensial dari proses produksi kapitalis. Nilai surplus digunakan borjuis untuk berinvestasi ulang, memodernisasikan, dan mengembangkan kapasitas produksinya. Hal ini dilakukan agar tidak disingkirkan oleh pesaing dari kelas yang sama. Oleh karena itu sistem kapitalisme yang dianut oleh kaum proletariat mengalami perubahan seiring berjalannya waktu. Maka muncullah komunisme untuk menggantikan sitem kapitalisme.
Komunisme itu sendiri merupakan hal harus ditegakkan oleh para para proletariat (buruh) bersatu supaya dapat menghancurkan kapitalisme. Selama masa transisi ini, sosialisme  menjadi tonggak tunggal sebagai penggiring komunisme baru. Marx mengatakan bahwa dalam masyarakat sosialis, sebagai imbalan atas sejumlah pekerjaan, buruh akan menerima sarana konsumsi dalam jumlah yang ekuivalen atau sebagaimana yang diadopsi oleh Uni Soviet, “masing-masing memperoleh sesuai kemampuan, masing-masing menerima sesuai kerjanya.”
Komunisme penuh akan memiliki beberapa ciri utama (Marx & Engels, 1848). Bagi mereka hal itu akan menjadi masyarakat tanpa kelas, karena perbedaan kelas hilang. Kita mungkin akan bertanya kenapa perbedaan kelas bisa hilang. Mengingat kembali dari penjelasan Marx diatas tentang sejarah hampir semuanya didasarkan pada konflik kelas sebagai sesuatu yang muncul “secara natural.” Kapitalisme sangat produktif secara materiel sehingga tak lagi menginginkan sesuatu. Teknologi memberikan kelimpahan materiel sehingga tidak ada lagi kebutuhan untuk membagi antara orang yang punya dan tidak, tak ada lagi kelas. Akibatnya, karena negara dianggap sebagai kelas dominan, komunisme pada akhirnya akan menjadi masyarakat tanpa negara sebab negara pada akhirnya akan “hilang” kegunaannya. Menurut Marx, di bawah komunisme, orang akan bebas untuk melakukan apa yang mereka suka.
Dengan tidak menguatnya konsep dasar yang dilakukan Marx terhadap kapitalisme, maka Marx memasukkan revolusione profesional sebagai respon atau pencerahan bagi proletariat dan membantu mereka membentuk kelas, yang kelak dimaksudkan untuk menggulingkan supremasi borjuis dan merebut kekuasaan politik. Peran ini adalah untuk mempersiapkan proletariat untuk menjalankan misi revolusi dengan memberikan pendidikan massa tentang tujuan historis mereka....*****

Tidak ada komentar:

Posting Komentar