Di
tahun 2015 Indonesia akan menyelenggarakan Pilkada Serentak tepatnya pada 9
Desember untuk tahap pertama sisanya digelar Februari 2016 untuk tahap kedua
dan Juni 2018 untuk tahap ketiga. Pertarungan akan segera dimulai lagi paska
berakhirnya Pemilihan Umum Presiden dan Legislatif di tahun 2014 lalu. Para Parpaol
mempersiapkan kaderisasi jauh-jauh hari sebelum pertarungan ini dimulai. Banyak
cara yang digunakan oleh Parpol untuk merekrut para calon dalam Pilkada kali
ini. Pemilihan yang selektif dan ketat harus diimplikasikan mengingat banyak
para calon yang hanya mementingkan dirinya sendiri jauh hari dengan mengabaikan
aktivitas sebelum Pilkada ini akan dimulai.
Pilkada
kali ini berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya yang dipilih langsung oleh
rakyat secara bertahap-tahap. Bentuk pendekatan para calon masih menjadi suatu
misteri bagi kalangan masyarakat. Kampanye dan obral janji sudah dilakukan oleh
para calon demi mendulang suara. Poster dan brosour yang berbau diskriminatif
juga banyak sering kita temui, misalnya yang bertebaran di pinggir jalan,
popohonan, ataupun di baleho dan kolom jembatan. Suara pemilih adalah salah
satu hal yang harus diperebutkan oleh
para calon Pilkada demi menggiring pada kursi kepemimpinan. Namun seringkali
perebutan kekuasaan ini banyak ternodai sara dan kurang siapnya sebagai
masyarakat majemuk.
Isu sara
sudah lama bertebaran dimana-mana apalagi menjelang Pemilu ataupun Pilkada. salah
satu contoh yang masih kita ingat adalah ketika Presiden Joko Widodo dalam
pertarungan perebutan kursi Presiden R1 di tahun lalu mengalami dampak yang
sangat pesat mulai diakui sebagai antek Komunis, Yahudi, keturunan Tionghoa dan
bahkan lebih kejam tidak dapat berwudhu. Dengan demikian jika hal yang seperti
ini masih terus berlanjut dan sampai menyebarkan fitnah antar para calon
kandidat baik dari Gubernur, Wali Kota maupun Bupati dapat menimbulkan konflik
antar daerah maupun dalam elit politik sehingga dapat merusak pesta demokrasi.
Sebagian
kalangan menilai bahwa penyebaran isu yang berbau sara atau yang sering kita
kenal dengan istilah lain sebagai black campaign memang cara ini sangat
jitu demi mendongkrak suara dan menjatuhkan pesona lawan. Ada pula yang
bersifat sebaliknya perilaku yang sering ditujukan kepada satu aktor calon akan
juga dapat mempengaruhi elektabilitas penyebar fitnah sendiri.
Disamping
itu, para calon parpol diharapkan dapat bersifat dingin saling menerapkan etika
politik yang layak terhadap para lawan. Etika politik sendiri bertujuan kepada
kehidupan yang lebih baik, bersama dan untuk orang lain dalam rangka memperluas
lingkup kebebasan dan membangun institusi-institusi yang adil dalam konstelasi politik.
Sehingga dapat membentuk sebuah korelasi antara tindakan individual, kolektif, dan struktur-struktur
yang ada sesuai dengan kaidah berkampanye bagi para calon.
Untuk
itu perlu adanya kesadaran peserta atau pelaku kampanye untuk dapat membedakan
mana yang baik dan tidak, termasuk para pejabat birokrat yang tidak
diperkenankan melakukan kampanye dengan menggunakan fasilitas negara untuk
kepentingan dirinya serta adanya pertanggungjawaban secara transparan baik
dalam bentuk sumber dan penggunaan keuangan, maupun dalam hal permulaan berkampanye.
Para calon tidak boleh mencuri start terlebih dahulu dan menggunakan waktu paska
kampanye di waktu saat hari tenang, dan lingkungan harus tetap terjaga supaya
tidak dikotori dan yang terakhir kejujuran harus diutamakan.
Sehingga
Pilkada serentak kali ini dapat berjalan dengan mulus sesuai dengan apa yang kita
harapkan. Karena dalam negara yang menganut sistem demokrasi petarung harus
siap menang dan juga siap kalah dalam suatu pertandingan (pilkada).
Untuk itu pengakuan kepada suara terbanyak (mayoritas) untuk pemegang kekuasaan
dalam hal apa pun berdasarkan keputusan yang telah diambil secara adil dan
jujur, harus dihargai. Karena itu sikap utama
demokrasi, sikap moral yang harus dijunjung tinggi oleh para pelaku atau
aktor politik. Termasuk mengakui kekalahan serta memberi dukungan kepada pihak
yang memenangkan peraturan. Jalur untuk mendapatkan kemenangan pertarungan agar
memerlukan strategi yang jitu dalam melakukan sosialisasi kampanye.
Untuk itu, etika politik dalam berkampanye harus dimiliki oleh setiap aktor politik. Etika dan politik diperlukan untuk memelihara kesatuan dalam berpolitik dengan menghargai dan menaati legitimasi yang merujuk pada norma-norma moral, nilai-nilai hukum dan peraturan perundangan. Seperti yang diungkapkan oleh Wallan, terdapat empat moralitas etika yang berakar pada nilai demokrasi, yakni: mengembangkan budaya kritis, menumbuhkan kebiasaan bersikap adil, mengutamakan kepentingan umum daripada kepentingan pribadi, dan menanamkan kebiasaan menghormati perbedaan pendapat.
Dalam memburu kekuasaan pada prakteknya banyak calon yang mengabaikan dimensi etika. Seperti yang diungkapkan di atas mereka hanya berfikir dan mementingkan dirinya, tidak mampu menempatkan posisi orang lain. oleh karena itu, sungguh masuk akal jika para calon kandidat dalam pilkada-pilkada sebelumnya banyak yang mengabaikan etika dalam berpolitik ini sehingga ketika mereka mendapatkan mandat untuk menjabat dapat terjadi ketimpangan yang tidak peka terhadap jeritan masyarakat. Para calon yang baik adalah mereka yang memiliki sikap jujur, santun, memiliki integritas dalam menghargai orang lain dengan menerima pluralitas, serta memiliki keprihatinan untuk kesejahteraan umum. Hanya poltikus yang menjalankan etika politik yang tinggi dapat digelari sebagai “negarawan”.
Strategi maupun trik yang dilakukan dalam kampanye politik boleh berkembang dan menjadi tontonan yang menarik, tetapi menghargai kompetitor atau lawan selalu menjadi kendali sehingga pihak yang berkompetisi dapat mengembangkan kreativitas masing-masing, apalagi masyarakat Indonesia saat ini sudah makin maju, makin cerdas dan makin kritis. Semoga berakhirnya tulisan ini etika dalam politik dan berkampanye pada pilkada serentak yang pertama kali datang dari kandidat parpol yang benar-benar memeliki kredibilitas dan integritas yang mumpuni dan sesuai dengan kebutuhan rakyat ....*****

Tidak ada komentar:
Posting Komentar