Powered By Blogger

Jumat, 20 November 2015

Menyikapi Tragedi 13/11 PARIS



Pada dasawarsa kali ini kita kembali dikejutkan dengan pengeboman yang terjadi di ibu kota Paris, Perancis, membuat Eropa dan dunia kembali berduka. Diduga pengeboman ini dilakukan kelompok militan ISIS (Islamic State of Iraq and Suriah). Serangan ini mengakibatkan 170-an orang meninggal dan kemungkinan juga akan masih terus bertambah. 6 lokasi menjadi tempat sasaran penembakan dan pelemparan bom tempat-tempat seperti restoran, bar, dan gedung teater Bataclan yang menjadi salah satu angka kematian terbanyak dalam teror ini yakni 112 teridentifikasi meninggal dunia.

Banyak anggapan dari berbagai kalangan mengaggap bahwa serangan ini ada hubungannya dengan apa yang terjadi di Suriah ketika Perancis melakukan invasi militer besar-besaran untuk memberantas kaum radikal. Perancis seolah-olah memerangi kelompok teroris ISIS, namun dari balik layar tersebut ada kepentingan yang terselubung. Presiden Perancis Francois Holland diyakini melakukan kerjasama dengan Amerika demi menggulingkan Bashar Assad seperti yang diungkapkan oleh pengamat politik timur tengah, Andi Hakim Presiden Perancis sangat hipokrit (munafik).
Hollande menolak dengan tegas untuk penyelesaian konflik yang terjadi di Suriah yang digagas oleh negara Jerman dan Rusia. Akan tetapi bersama Amerika dan Inggris yang menjadi penyuplai senjata Hollande mereka menyetujuinya. Hal ini yang menjadi perbincangan oleh para netizen dari belahan dunia jika mungkin demikian maka Perancis dapat dipastikan sedang bermain catur dengan ISIS. Seperti organisasi radikal lainnya gerakan Al-Qaeda, Jihadis dan ISIS mengutip dari pernyataan Mantan Menteri Luar Negeri Hillary Clinton bahwa organisasi ini dibentuk oleh Amerika untuk membasmi radikalisme. Memang seluruh masyarakat dunia tidak akan tinggal diam dengan sikap yang diperbuat oleh ISIS, tetapi apabila benar ini diciptakan oleh Amerika yang notaben menginginkan Sumber-Sumber Daya Alam (SDA) migas maupun minerba maka harus dibuka selebar-lebarnya biar tidak ada mispersepsi demi perdamaian dunia

Di tahun 80-an ketika Al-Qaeda pernah menjadi sekutu bagi Amerika dalam serangan Aghanistan, sebelum akhirnya menjadi musuh utama lagi di tahun 90-an puncaknya adalah kasus 9/11 (nine eleven) yang dianggap pukulan telak bagi Amerika dan negara Islam adalah yang paling bertanggung jawab seperti sikap Amerika kepada Saddam Husein yang sarat kontroversi yang menewaskan ratusan ribu masyarakat akibat invasi yang dilakukan oleh Amerika dengan maksud menelusuri letak senjata nuklir sampai pada akhirnya Saddam Hussein dihukum gantung diri.

Ditakutkan teror yang kerap dilancarkan oleh kelompok-kelompok jihadis ini memang dibiarkan oleh Amerika dan sekutunya berkembang seperti Inggris dan Perancis yang kemudian akan leluasa membuat mereka menjustifikasi melakukan serangan balik sampai menghancurkan ke akar-akarnya. Dengan demikian apa yang selama ini kita ketahui dari media memang seharusnya disikapi dengan serius, jangan sampai hal ini terus menggerogoti negara yang dianggap lemah Amerika. Apabila dibiarkan begitu saja sampai membentuk publik opini di berbagai penjuru dunia maka jangan harap para sekutu ini akan berhenti melakukan aliansi atau invasi yang lebih besar demi menggerokoti negara-negara Islam lainnya khususnya di middle-east yang syarat power dan kepentingan.

Ini bisa terlihat jelas ketika Amerika dengan Presiden yang sarat kontroversi George Bush membuat pernyataan sikap pada negara Islam dengan memberikan dua pilihan yakni; menjadi kawan atau lawan. Kawan berarti negara-negara Islam harus dapat bekerjasama dengan para sekutu untuk menghancur porak gandakan Jihadis yang sebetulnya memang ia ciptakan, lawan berarti mereka siap menerima konsekuensi apapun termasuk teror dan intervensi dari mereka. 15 tahun paska tragedi 9/11 2001 telah membuat konstelasi politik kepemimpinan Timur Tengah berubah drastis mulai dari paham ideologi sampai mengganti negara dengan negara demokrasi yang bagi paham ideologi liberal akan mengurangi konflik sesama negara demokrasi.

Jika Tunisia, Libya dan Mesir dengan mudahnya dihancurkan dan menggantinya berbagai kepemimpinan nasional, tidak demikian dengan Presiden Suriah Bashar Assad, tidak mudah digulingkan. Berbagai cara sudah dilakukan oleh Amerika namu nihil hasilnya. Jika Bashar Assad dapat digulingkan maka kemungkinan tidak akan ada radikalisme seperti ISIS yang diduga memang diciptakan untuk turut campur dalam urusan kebijakan pemerintah Suriah, apalagi Suriah memang dikenal dengan Minyak yang sangat melimpah dan tak terbatas. Maka monster ISIS tidak akan lagi eksis yang kita kenal sebagai musuh utama semua negara. 

Konflik yang sudah berlangsung kurang lebih 4 tahun ini sudah menjeret ke berbagai negara tetangga Suriah seperti Iraq dan Yaman. Imbasnya banyak pengungsi dari Suriah berimigrasi datang ke Eropa dan membuat Uni Eropa kewalahan menerima imigran. Apalagi negara Eropa terkenal sangat sensitif terhadap orang Muslim (konserfativ). Apakah ini cukup menjadi alasan untuk melakukan serangan ke negara-negara Islam di middle east terutama Suriah bagi sekutu? Kenapa dengan mudahnya ISIS membobol keamanan Perancis? Lantas apakah ini memang sengaja dilakukan?
Bisa jadi, karena strategi yang dilakukan oleh Amerika terbukti jitu dan mirip antara keduanya baik 9/11 maupun 13/11 ketika WTC berhasil ditabrak oleh pasukan Al-Qaeda yang kemudian leluasa merangsek ke Timur-Tengah.

Presiden Perancis melakukan deklarasi setelah kejadian 13/11. “this is act of war,” maksud dari deklarasi ini tak lain hanya ingin membalas dendam dengan apa yang terjadi di Paris lalu akibat teror yang menimpanya. Dengan wajah yang sangat geram Presiden Perancis Francois Hollande menyerukan tingkat keamanan nasional level tertinggi yang intinya akan membalas balik. Intelijen yang dimiliki oleh Perancis sebenarnya cukup canggih untuk mengawal berbagai permasalahan keamanan apalagi di Ibu Kota sekelebaer Paris, akan tetapi apabila memang terdapat berbagai kepentingan yang terselubung maka hal ini sungguh keterlaluan. Karena selang waktu 10 bulan serangan Charlie Hebdo 7 Januari 2015 lebih dahulu terjadi, sungguh kejadian seperti ini sangat disayangkan hanya demi kepentingan satu negara, negara-negara lain ikut tersandung penderitaan...*****

Tidak ada komentar:

Posting Komentar