Powered By Blogger

Senin, 16 November 2015

Ketidakmampuan Filsafat Melihat Tuhan


Sungguh, saya sudah lama ingin membahas tentang pemikiran para filsuf melihat tuhan. Banyak hal yang menarik dari perspektif yang sengaja dibuat oleh para filsuf barat untuk terus mengelabui pemahaman kita tentang eksistensi Tuhan. Setelah  berfikir dan terus merenungi para pemikir filsafat saya mendapatkan sebuah artikel menarik tentang permasalahan ini. Pikiran dan pemahaman tambah tidak karuan ketika akal saya berusaha keras tuk memahami apa itu ontologi, epistemologi dan aksiologi secara terperinci yang semuanya memiliki berbagai cabang perbedaan. Benar, ilmu filsafat memang telah memberikan peran dan andil positif dalam kehidupan politik, moral, dan sosial pada manusia ketika tidak ada agama yang benar. 
Oke langsung saja ke dalam pembahasan dengan mencermati semua aliran pemikiran para filsuf dan saya temukan kalau yang dibahas oleh pemikiran filsafat itu tidak melebihi makna yang terkandung dalam Al-Qur’an. Saya perhatikan, para filsuf - dan juga orang biasa - sudah menyadari adanya Allah swt, tapi kesadaran ini masih samar sehingga menimbulkan keraguan terhadap apa-apa yang dipahami dan dirasakannya. Kesadaran fitrah ini hanya akan menjadi sekedar perasaan saja yang berusaha keras untuk menemukan-Nya.


Anehnya lagi, seorang filsuf ingin mencapai kondisi “al-kasyaf al-ilahi” atau “kasyf al-hijab” (kondisi menyaksikan tuhan secara langsung), yaitu kondisi yang dicapai oleh seorang sufi sebagai hasil dari dzikir kepada Allah swt. Namun filsuf tersebut tidak menyadari bahwa dirinya berbeda dengan orang sufi, sebab orang sufi sudah menempuh jalan yang baik ketika menghadap Allah sejak awal, sedangkan seorang filsuf sejak awal telah menempuh jalan yang salah ketika menuju Tuhannya. Dengan demikian, seorang filsuf hanya tertuju kepada dirinya atau kepada akalnya sendiri, sehingga tentu saja dia hanya akan menemukan apa yang ada dalam dirinya atau fitrah yang menjadi langkah awalnya untuk berfikir tentang Tuhan. Hal ini menjadikan fitrah tersebut hanya berupa perasaan dan pemahaman liar yang berkecamuk sebagai percikan-percikan pengetahuan yang diperolehnya dari alam sekelilingnya. Oleh karena itu, para filsuf hanya mampu mengungkapkan pengetahuan tenang keberadaan dan asal-usul dirinya hanya dengan cara yang samar sehingga tidak dapat dijadikan petunjuk oleh manusia.


Seperti halnya pokok permasalahan tentang filsafat eksistensialisme yang mengatakan bahwa keberadaan (eksistensi zat) manusia mendahului esensinya (sifat dari eksistensi). Sedangkan filsafat fenomenologi mengatakan bahwa esensi (sifat dari eksistensi) manusia mendahului keberadaannya (eksistensi zatnya). Jadi ajaran kedua aliran inisaling berlawanan. Lalu kita bertanya pada para filsuf ini, apa gerangan yang akan didapatkan manusia dari pengetahuan seperti ini? Khususnya jika ajaran kedua filsafat ini saling mengingkari adanya tuhan sang pencipta? Lalu kemana filsafat ini akan membawa manusia, baik manusia itu mengetahui bahwa keberadaannya mendahului esensinya atau sebaliknya?


Baik, sekarang kita tarik sebuah tanggapan bahwa seluruh manusia sepakat kalau filsafat eksistensialisme adalah benar dan bahwa keberadaan manusia itu mendahului esensinya, atau sebaliknya. Lalu hasil apa yang dapat diperoleh manusia berakal – termasuk yang gila dari mereka dari pengetahuan seperti ini? Apakah filsafat ini akan membuat manusia mengetahui akan hakikat keberadaannya dan tujuan akhir hidupnya ataukah akan menghasilkan kesimpulan bahwa manusia tidak ada wujudnya dan tidak perlu ada serta tidak ada tujuan hidupnya? Ataukah alam ini tidak ada yang menciptakannya? Atau untuk mengetahui fitrah manusia dari hakikat hidup ini atau tidak? Atau mungkin sebaliknya? Selanjutnya apa yang dapat kita perbuat ketika mau benar-benar datang menjemput kita? Apakah kita akan mengatakan seperti yang dikatakan Sartre ketika maut menemuinya, “panggillah pendeta untuk saya” dengan harapan memperoleh keselamatan? Saya tidak mengerti omong kosong model apa yang diucapkan para filsuf ini! Mengapa manusia sampai tersesat sejauh ini? Padahal mereka yakin bahwa semua pemikiran ini tidak akan membawa mereka pada kebenaran yang hakiki! Sungguh manusia telah menghilangkan akal dengan kemauannya sendiri, lalu berlari terengah-engah mengejar pengetahuan yang tidak berharga.


Sesungguhnya salah satu ciri filsafat yang paling jelas adalah tidak adanya tujuan dalam kajiannya. Adalah tidak cukup jika para filsuf mengatakan bahwa tujuan filsafat adalah ilmu pengetahuan dan ilmu pengetahuan tersebut akan membawa manusia kepada “kebahagiaan mutlak”, karena kita akan berkata kepada mereka, “baiklah”, sekarang tunjukkan kepada kami kebahagiaan manusia seperti apa yang menjadi tujuan akhir dari filsafat anda? Maka tentu saja kita kita tidak akan menemukan satu jawaban pun dari mereka, karena kebahagiaan tidak mempunyai definisi yang jelas menurut para filsuf itu. Bukan hanya ini saja, bahkan “manusia” sendir tidak ada definisinya dalam filsafat kecuali hanya dengan mengatakan bahwa manusia adalah seorang tukang kayu atau tukang sampah atau ahli filsafat, sebagaimana yang didefinisikan oleh filsafat eksistensialisme ini.


Lalu dimana letak kesadaran manusia? Dimana akal manusia yang sudah hilang tersebut? Oleh karena itu, sebelum memulai berfilsafat hendaklah para filsuf itu menjelaskan terlebih dahulu kepada kita tujuan-tujuannya sehingga kita dapat mengetahui jalan mana yang ditempuhnya dan ke arah mana mereka akan membawa kita. Berdasarkan latar belakang ini, ada beberapa hal yang dijadikan batasan yang harus dijelaskan oleh seorang filsuf kepada kita, yaitu:



Pertama, apakah manusia itu? Sebagaimana kita saksikan, hasil tertinggi yang dicapai oleh filsafat tentang manusia adalah bahwa “manusia itu ada” atau bahwa “para filsuf itu ada,” sebagaimana yang dikatakan oleh Rene Descartes (1597-1650) dalam ucapannya yang terkenal, “saya berfikir maka saya ada (cogito ergo sum),” sebagai sebuah dalil tentang adanya diri manusia. Secara aksiomatis, pengetahuan seperti ini tidak akan mengenyangkan rasa lapar ataupun memuaskan rasa haus. Sebab dapat saja kita katakan bahwa kita memang ada, tapi apakah manusia itu? Manusia bukan hanya ada toh seperti yang diungkan Descartes ini, mendengar ucapan “saya berfikir berarti saya ada”, semua manusia bertepuk tangan dan memberikan gelar kepadanya sebagai “Bapak Filsafat Modern” hanya karena dia mengatakan bahwa kita ada!aduhai, apakah pengetahuan seperti ini harus kita banggakan? Atau pernah hilang dari diri kita? Ungkapan yang seperti ini juga menunjukkan kalau selama ini kita tidak sadar bahwa kita ada, sehingga kita memerlukan Descartes untuk menyatakan bahwa kita ada! Jadi tidak aneh pula jika Afred Guls A. Mengkritik tajam ucapan Descartes ini dengan mengatakan bahwa ungkapan “saya berfikir berarti saya ada” adalah suatu diagnosa yang salah. Sebab untuk menyimpulkan bahwa “saya ada” itu tidak mesti harus dilalui dengan cara “berfikir.” Kritikan ini memberikan petunjuk bahwa kita memang ada, tapi dengan  cara apa? Dari sudut pandang filsafat kita tidak mengetahui apakah kita memang benar-benar ada ataukah tidak?



Kedua, kemana filsafat akan membawa kita? Apakah filsafat yang diserukan para filsuf benar-benar akan membawa manusia kepada pengetahuan hakiki tentang keberadaan dirinya? Termasuk tujuan akhir dari hidupnya? Ataukah para filsuf itu sendiri yang sesat dan menyesatkan?



Ketiga, apakah filsafat dapat membuat manusia bahagia? Ketika seorang filsuf mengatakan bahwa tujuan dari filsafatnya adalah untuk membawa manusia kepada kebahagiaan yang sejati, maka kita dapat berkata kepada mereka, “yang jelas, anda bercanda atau berbohong, atau mungkin keduanya. Sebab anda tidak tahu arti kebahagian yang sebenarnya, sebagaimana anda juga tidak tahu bagaimana jalan menuju kebahagiaan.” Dan sampai sekarang, belum ada seorang filsuf pun yang dapat memberikan batasan tentang “kebahagiaan” atau hanya sekadar batasan relatif yang cukup memuaskan dan diterima oleh akal manusia.
              Dengan demikian tidaklah aneh jika warisan pemikiran yang seperti ini tidak dapat menemukan Tuhan dengan seutuhnya, pemahaman ini akan menyebabkan manusia terjerumus ke dalam pemikiran paganisme yang sangat luar biasa. kondisi inilah yang menyebabkan manusia lari dari agama ke aliran-aliran pemikiran yang diciptakan oleh manusia sendiri, karena barangkali pemikiran tersebut lebih ramah dan lebih cocok dengan logika berfikir mereka daripada ajaran-ajaran paganisme yang tidak masuk akal ini. Jadi tidaklah aneh jika manusia zaman sekarang mengklasifikasikan agama dan mitos ataupun agama adalah candu seperti ungkapan Karl Marx dalam bukunya Das Capital. Pemikiran Karl Marx ini memang unik dan sering memunculkan kntroversi kritikan dari berbagai kalangan disiplin ilmu, satu hal yang masih selalu saya ingat ketika mendengar nama Karl Marx, Marx tidak bisa lari bayang-bayang masa lalu!!! kedua orangtuanya dulunya beragaman Yahudi akan tetapi pindah haluan ke Protestan dikarenakan demi sebuah pekerjaan. Sungguh memalukan hal sedemikian ini telah membentuk pola pikir sampai saat abad ke-21 ini. Kritik bagi para penikmat filsafat yang selalu membanggakan dengan retorika berfilsafatnya untuk segera berfikir ulang dalam pandangannya kedepan supaya tidak tertipu dengan apa yang para filsuf (western) ungkapkan. Dikarenakan para filsuf itu sendiri tidak mengetahui tentang apakah tujuan akhir yang diharapkan dari usaha mereka, sebagaimana mereka juga tidak mengetahui jalan mana yang mereka tempuh. Dan kalaupun mereka mengetahui, namun mereka tidak mengetahui dimana perjalanan tersebut akan berakhir!....*****

Tidak ada komentar:

Posting Komentar