Sungguh, saya sudah lama ingin membahas tentang pemikiran para filsuf melihat tuhan. Banyak hal yang menarik dari perspektif yang sengaja dibuat oleh para filsuf barat untuk terus mengelabui pemahaman kita tentang eksistensi Tuhan. Setelah berfikir dan terus merenungi para pemikir filsafat saya mendapatkan sebuah artikel menarik tentang permasalahan ini. Pikiran dan pemahaman tambah tidak karuan ketika akal saya berusaha keras tuk memahami apa itu ontologi, epistemologi dan aksiologi secara terperinci yang semuanya memiliki berbagai cabang perbedaan. Benar, ilmu filsafat memang telah memberikan peran dan andil positif dalam kehidupan politik, moral, dan sosial pada manusia ketika tidak ada agama yang benar.
Oke langsung saja ke dalam pembahasan dengan mencermati semua aliran pemikiran para filsuf dan saya temukan kalau yang dibahas oleh pemikiran filsafat itu tidak melebihi makna yang terkandung dalam Al-Qur’an. Saya perhatikan, para filsuf - dan juga orang biasa - sudah menyadari adanya Allah swt, tapi kesadaran ini masih samar sehingga menimbulkan keraguan terhadap apa-apa yang dipahami dan dirasakannya. Kesadaran fitrah ini hanya akan menjadi sekedar perasaan saja yang berusaha keras untuk menemukan-Nya.
Oke langsung saja ke dalam pembahasan dengan mencermati semua aliran pemikiran para filsuf dan saya temukan kalau yang dibahas oleh pemikiran filsafat itu tidak melebihi makna yang terkandung dalam Al-Qur’an. Saya perhatikan, para filsuf - dan juga orang biasa - sudah menyadari adanya Allah swt, tapi kesadaran ini masih samar sehingga menimbulkan keraguan terhadap apa-apa yang dipahami dan dirasakannya. Kesadaran fitrah ini hanya akan menjadi sekedar perasaan saja yang berusaha keras untuk menemukan-Nya.
Anehnya lagi, seorang filsuf ingin mencapai kondisi “al-kasyaf
al-ilahi” atau “kasyf al-hijab” (kondisi menyaksikan tuhan secara
langsung), yaitu kondisi yang dicapai oleh seorang sufi sebagai hasil dari
dzikir kepada Allah swt. Namun filsuf tersebut tidak menyadari bahwa dirinya
berbeda dengan orang sufi, sebab orang sufi sudah menempuh jalan yang baik
ketika menghadap Allah sejak awal, sedangkan seorang filsuf sejak awal telah
menempuh jalan yang salah ketika menuju Tuhannya. Dengan demikian, seorang
filsuf hanya tertuju kepada dirinya atau kepada akalnya sendiri, sehingga tentu
saja dia hanya akan menemukan apa yang ada dalam dirinya atau fitrah yang
menjadi langkah awalnya untuk berfikir tentang Tuhan. Hal ini menjadikan fitrah
tersebut hanya berupa perasaan dan pemahaman liar yang berkecamuk sebagai
percikan-percikan pengetahuan yang diperolehnya dari alam sekelilingnya. Oleh
karena itu, para filsuf hanya mampu mengungkapkan pengetahuan tenang keberadaan
dan asal-usul dirinya hanya dengan cara yang samar sehingga tidak dapat
dijadikan petunjuk oleh manusia.
Seperti halnya pokok permasalahan tentang filsafat eksistensialisme
yang mengatakan bahwa keberadaan (eksistensi zat) manusia mendahului esensinya
(sifat dari eksistensi). Sedangkan filsafat fenomenologi mengatakan bahwa
esensi (sifat dari eksistensi) manusia mendahului keberadaannya (eksistensi
zatnya). Jadi ajaran kedua aliran inisaling berlawanan. Lalu kita bertanya pada
para filsuf ini, apa gerangan yang akan didapatkan manusia dari pengetahuan
seperti ini? Khususnya jika ajaran kedua filsafat ini saling mengingkari adanya
tuhan sang pencipta? Lalu kemana filsafat ini akan membawa manusia, baik
manusia itu mengetahui bahwa keberadaannya mendahului esensinya atau
sebaliknya?
Baik, sekarang kita tarik sebuah tanggapan bahwa seluruh manusia
sepakat kalau filsafat eksistensialisme adalah benar dan bahwa keberadaan
manusia itu mendahului esensinya, atau sebaliknya. Lalu hasil apa yang dapat
diperoleh manusia berakal – termasuk yang gila dari mereka dari pengetahuan
seperti ini? Apakah filsafat ini akan membuat manusia mengetahui akan hakikat
keberadaannya dan tujuan akhir hidupnya ataukah akan menghasilkan kesimpulan
bahwa manusia tidak ada wujudnya dan tidak perlu ada serta tidak ada tujuan
hidupnya? Ataukah alam ini tidak ada yang menciptakannya? Atau untuk mengetahui
fitrah manusia dari hakikat hidup ini atau tidak? Atau mungkin sebaliknya? Selanjutnya apa yang dapat kita perbuat ketika mau benar-benar
datang menjemput kita? Apakah kita akan mengatakan seperti yang dikatakan
Sartre ketika maut menemuinya, “panggillah pendeta untuk saya” dengan harapan
memperoleh keselamatan? Saya tidak mengerti omong kosong model apa yang
diucapkan para filsuf ini! Mengapa manusia sampai tersesat sejauh ini? Padahal
mereka yakin bahwa semua pemikiran ini tidak akan membawa mereka pada kebenaran
yang hakiki! Sungguh manusia telah menghilangkan akal dengan kemauannya
sendiri, lalu berlari terengah-engah mengejar pengetahuan yang tidak berharga.
Sesungguhnya salah satu ciri filsafat yang paling jelas adalah
tidak adanya tujuan dalam kajiannya. Adalah tidak cukup jika para filsuf
mengatakan bahwa tujuan filsafat adalah ilmu pengetahuan dan ilmu pengetahuan
tersebut akan membawa manusia kepada “kebahagiaan mutlak”, karena kita akan
berkata kepada mereka, “baiklah”, sekarang tunjukkan kepada kami kebahagiaan
manusia seperti apa yang menjadi tujuan akhir dari filsafat anda? Maka tentu
saja kita kita tidak akan menemukan satu jawaban pun dari mereka, karena
kebahagiaan tidak mempunyai definisi yang jelas menurut para filsuf itu. Bukan
hanya ini saja, bahkan “manusia” sendir tidak ada definisinya dalam filsafat
kecuali hanya dengan mengatakan bahwa manusia adalah seorang tukang kayu atau
tukang sampah atau ahli filsafat, sebagaimana yang didefinisikan oleh filsafat
eksistensialisme ini.
Lalu dimana letak kesadaran manusia? Dimana akal manusia yang sudah
hilang tersebut? Oleh karena itu, sebelum memulai berfilsafat hendaklah para
filsuf itu menjelaskan terlebih dahulu kepada kita tujuan-tujuannya sehingga
kita dapat mengetahui jalan mana yang ditempuhnya dan ke arah mana mereka akan
membawa kita. Berdasarkan latar belakang ini, ada beberapa hal yang dijadikan
batasan yang harus dijelaskan oleh seorang filsuf kepada kita, yaitu:
Pertama, apakah manusia
itu? Sebagaimana kita saksikan, hasil tertinggi yang dicapai oleh filsafat
tentang manusia adalah bahwa “manusia itu ada” atau bahwa “para filsuf itu
ada,” sebagaimana yang dikatakan oleh Rene Descartes (1597-1650) dalam
ucapannya yang terkenal, “saya berfikir maka saya ada (cogito ergo sum),”
sebagai sebuah dalil tentang adanya diri manusia. Secara aksiomatis,
pengetahuan seperti ini tidak akan mengenyangkan rasa lapar ataupun memuaskan
rasa haus. Sebab dapat saja kita katakan bahwa kita memang ada, tapi apakah
manusia itu? Manusia bukan hanya ada toh seperti yang diungkan Descartes ini,
mendengar ucapan “saya berfikir berarti saya ada”, semua manusia bertepuk
tangan dan memberikan gelar kepadanya sebagai “Bapak Filsafat Modern” hanya
karena dia mengatakan bahwa kita ada!aduhai, apakah pengetahuan seperti ini
harus kita banggakan? Atau pernah hilang dari diri kita? Ungkapan yang seperti
ini juga menunjukkan kalau selama ini kita tidak sadar bahwa kita ada, sehingga
kita memerlukan Descartes untuk menyatakan bahwa kita ada! Jadi tidak aneh pula
jika Afred Guls A. Mengkritik tajam ucapan Descartes ini dengan mengatakan
bahwa ungkapan “saya berfikir berarti saya ada” adalah suatu diagnosa yang
salah. Sebab untuk menyimpulkan bahwa “saya ada” itu tidak mesti harus dilalui
dengan cara “berfikir.” Kritikan ini memberikan petunjuk bahwa kita memang ada,
tapi dengan cara apa? Dari sudut pandang
filsafat kita tidak mengetahui apakah kita memang benar-benar ada ataukah
tidak?
Kedua, kemana filsafat
akan membawa kita? Apakah filsafat yang diserukan para filsuf
benar-benar akan membawa manusia kepada pengetahuan hakiki tentang keberadaan
dirinya? Termasuk tujuan akhir dari hidupnya? Ataukah para filsuf itu sendiri
yang sesat dan menyesatkan?
Ketiga, apakah filsafat
dapat membuat manusia bahagia? Ketika seorang filsuf mengatakan bahwa tujuan
dari filsafatnya adalah untuk membawa manusia kepada kebahagiaan yang sejati,
maka kita dapat berkata kepada mereka, “yang jelas, anda bercanda atau
berbohong, atau mungkin keduanya. Sebab anda tidak tahu arti kebahagian yang
sebenarnya, sebagaimana anda juga tidak tahu bagaimana jalan menuju
kebahagiaan.” Dan sampai sekarang, belum ada seorang filsuf pun yang dapat
memberikan batasan tentang “kebahagiaan” atau hanya sekadar batasan relatif
yang cukup memuaskan dan diterima oleh akal manusia.
Dengan demikian tidaklah aneh jika warisan pemikiran yang seperti ini tidak dapat menemukan Tuhan dengan seutuhnya, pemahaman ini akan menyebabkan manusia terjerumus ke dalam pemikiran paganisme yang sangat luar biasa. kondisi inilah yang menyebabkan manusia lari dari agama ke aliran-aliran pemikiran yang diciptakan oleh manusia sendiri, karena barangkali pemikiran tersebut lebih ramah dan lebih cocok dengan logika berfikir mereka daripada ajaran-ajaran paganisme yang tidak masuk akal ini. Jadi tidaklah aneh jika manusia zaman sekarang mengklasifikasikan agama dan mitos ataupun agama adalah candu seperti ungkapan Karl Marx dalam bukunya Das Capital. Pemikiran Karl Marx ini memang unik dan sering memunculkan kntroversi kritikan dari berbagai kalangan disiplin ilmu, satu hal yang masih selalu saya ingat ketika mendengar nama Karl Marx, Marx tidak bisa lari bayang-bayang masa lalu!!! kedua orangtuanya dulunya beragaman Yahudi akan tetapi pindah haluan ke Protestan dikarenakan demi sebuah pekerjaan. Sungguh memalukan hal sedemikian ini telah membentuk pola pikir sampai saat abad ke-21 ini. Kritik
bagi para penikmat filsafat yang selalu membanggakan dengan retorika
berfilsafatnya untuk segera berfikir ulang dalam pandangannya kedepan supaya
tidak tertipu dengan apa yang para filsuf (western) ungkapkan. Dikarenakan para
filsuf itu sendiri tidak mengetahui tentang apakah tujuan akhir yang diharapkan
dari usaha mereka, sebagaimana mereka juga tidak mengetahui jalan mana yang
mereka tempuh. Dan kalaupun mereka mengetahui, namun mereka tidak mengetahui
dimana perjalanan tersebut akan berakhir!....*****
Tidak ada komentar:
Posting Komentar