Powered By Blogger

Selasa, 06 Oktober 2015

Understanding you is like state in IR



Aku tak bisa memungkiri, bahwa setiap manusia pasti akan merasakan fitrahnya, termasuk permasalahan ketertarikannya terhadap lawan jenis, maka jika harus demikian, untuk apa jika hati ini aku tambatkan kepada siapa yang bukan orangnya nanti, jika memang hati ini sangat peka terhadap pengaruh diri yang memilikinya ketika hati ini salah dalam pengelolaanya”.

Kamu seperti halnya ‘state’ yang tak cukup hanya dikaji ataupun dianalisa oleh para pemikir realis. Dibalik wajah parasmu terukir sebuah keistimewaan yang tak dapat kuhindari. Aku memandangimu seperti halnya berbicara langsung kepada Hans J. Morgenthau yang menjadaikan ‘great state’ sebagai the main actor utama. Realis saja tak dapat memahami gerak tubuhmu yang terdapat beberapa keindahan yang kamu miliki apalagi aku yang hanya sebagai pengagum rahasia. Sungguh sangat ironis bagiku teori ini tak mampu berbicara banyak tentang perihal cinta padamu. Asal kamu tahu kaum realis ini hadir  sebagai teori HI pertama setelah PD I terjadi pada 1919. Aku berusaha mengkombinasikan namun hasil masih belum mampu aku gengggam. Terjadilah beberapa pertentangan dalam batinku yang terus menguak disaat aku masih ingin terus mencoba untuk terus menyetubuhi pikiranmu tanpa sedikitpun berhenti dengan kepentingan-kepentingan. Realis memang terlalu mengagungkan kepentingan seolah-olah ia adalah  tuhan bagi mereka. Kamu tidak bisa berpaling dari setiap nafsu yang kamu miliki. Jujur aku tidak ingin berhenti mendekatimu seperti halnya Morghentau, Machiavelli, Hobbes yang terus setia menemani realis.

Disisi lain, aku pun juga mencoba memahamimu dengan teori lain. kata ‘peaceful’ adalah sebuah kata yang konotasinya tak perlu diungkapkan lagi seperti halnya ‘iya’ yang sudah memiliki arti utuh dan menolak menyerap kata ‘tidak’. ‘tidak’ harus digabungkan dengan kata lain. Bersanding bersama ‘peaceful’ bagi liberalis menjadi sebuah pemandangan elegent tersendiri. Tak sembarang orang dapat memahaminya. Berbeda denganmu, kamu barangkali mungkin sangat kompeten memahaminya. Aku juga percaya kamu pasti dapat mengetahui apa maksud dari kata relevansi keduanya. Ini berbicara tentang teori ini yang aku ungkapkan kepadamu. Teori ini sengaja aku ukir akibat ketidakmampuan para realis mendekati hatimu yang masih utuh dari intervensi ‘stranger’. Ini adalah sebuah pemikiran sederhana tentang liberalis. Benar ini memang liberal. Yang menganggap ‘state’ dan dirimu utuh datang dari sifat manusia yang baik. Ini adalah opposite dari realis. Kalau masalah setuju tidaknya melihat ‘state’ sebagai the main actor aku berharap kamu membaca buku karangan Immanuel Kant nantinya. Kamu akan menemukan beberapa pemahaman apa maksud berdamai bersamamu. Namun dia kecewa terhadap pemikiran yang selalu ditekankan oleh para realis bahwa manusia memiliki sifat serakah, sombong, mementingkan diri sendiri. Asal kamu tahu liberal ingin memandangimu dengan penuh kehangatan, damai, sejuk, dan keindahan tanpa adanya konflik dalam dirimu dengan yang lain. lagi-lagi ini kandas ditengah jalan dengan alasan masih terjadi PD II 1943. Seperti yang tertera dalam lirik lagu Isyana “tak pernah terbayang akan terjadi seperti ini pada akhirnya, semua waktu yang pernah kita lewati telah hilang dan sirna”. Jelas ini adalah akibat dari ketidakmampuan yang dialami oleh para liberal yang ingin bersanding denganmu untuk selalu berdamai dalam kepentingan nafsu antara kita.
Aku bermimpi hidup seribu tahun lagi. Mimpi itu bercerita mengenai bekas-bekas luka terdahulu. Ada beberapa persoalan mengenai kehidupan dari luka dan pilu. Kehidupan memang tak dapat dijelaskan mengenai rasionalitas dalam subjek ini adalah ‘aku dan kamu’. Seringkali manusia tidak ingin terikat dengan suatu hubungan lain. akan tetapi pada prakteknya sering terbengkalai. Cinta punya arti tersendiri dalam perjalanannya dan sering dikaitkan dengan kebahagiaan, kesayangan dari setiap insan manusia dengan lainnya. Maka dibutuhkanlah ‘via media’ sebagai hipotesis realis dan liberalis dalam memandangimu. Oleh karena itu lahirlah english school sebagai anggapan yang tak ingin memandangimu tanpa unsur paksaan ataupun terlalu pesimistic demi mendapatkan cintamu yang seutuhya.

2 komentar: